Feed on
Tulisan
Komentar

AKHIRNYA… dengan ekspresi bahagia, saya menyewa “Mereka Bilang, Saya Monyet” dari sebuah rental VCD, setelah tersenyum garing pada petugasnya yang tertawa—mengejek judul film ini.

Di Bandung, hanya Blitzmegaplex (yang harga per tiketnya cukup untuk menonton dua judul film di 21 atau XXI) yang menayangkan film karya Djenar Maesa Ayu ini. Selain dianggap kurang komersil, konon hanya bioskop tertentu saja yang memiliki fasilitas lengkap untuk memutar film berbasis digital ini. Walhasil, saya hanya bisa berharap waktu berjalan cepat hingga tiba saatnya film ini dibakar dalam kepingan CD.

Mari kita mulai bermain dengan si Monyet, hehe…

“Ibu saya …” kalimat menggantung ini menjadi teaser yang menarik untuk saya. Pertama, titik-titik itu terisi dengan kata “cantik”, lalu dihapus menjadi “baik”, kemudian “anggun”, sampai akhirnya… “monyet”. Dan si ibu pun langsung mendorong kepala anaknya ke meja.

Tetapi kemudian, kalimatnya berkembang menjadi “Ibu saya Lanjut Baca »

Niat nonton Kungfu Panda, malah kecantol Tri Mas Getir. Awalnya saya pikir, film ini besutan Kalyana Shira (Nia Dinata project) karena lagi-lagi dihiasi wajah—basi—Tora Sudiro, Indra Birowo dan Cut Mini Theo. Dan cerita yang diangkat pun lagi-lagi—fresh dan gress—tak biasa dari genre film yang sedang marak diputar.

Tri Mas Getir bercerita tentang tiga orang pemuda “getir” bernama—waduh, sory, saya lupa siapa nama tokoh yang diperankan Tora—sebut saja Tora, Ujang (Vincent Club 80’s) dan Bedjo (Indra Birowo) dalam perjuangannya mempertahankan perguruan tempat mereka menuntut ilmu pada seorang Shi Fhu/guru. Konflik dimulai ketika dengan konyolnya Shi Fhu meninggal hanya gara-gara keselek rendang Padang dari RM Padang milik ayahnya Ujang. Kematian Shi Fhu tidak hanya meninggalkan luka dan rasa kehilangan bagi murid-muridnya, melainkan juga HUTANG.

Suatu hari Lanjut Baca »

… dan apa yang didapat?

Pertama-tama, mungkin saya perlu mengemukakan alasan kenapa saya sampai rela mengantri tiket selama 1000 detik dan mengeluarkan Rp. 12.500,00 dari kocek HANYA untuk menonton film yang ternyata merupakan sequel dari Eiffel I’m in Love ini. Yeah, just for “clean” my eyes, coz the casts are good looking enough. Kata teman saya, “Itu lho, pemeran Tita-nya yang ada di iklan CITRA. Wah, cute banget!” walah, alasannya terdengar cukup konyol.

Astaga-naga, saya sampai melupakan nama asli pemeran Tita yang baru (yang dulu diperankan Shandy Aulia). Well, Tita yang SEKARANG jauh lebih segar dan menggemaskan. Sangat memanjakan mata dengan sikap manjanya yang khas remaja 17 tahunan. Tak ada yang baru dalam pembawaannya, kecuali itu tadi, Tita yang sekarang lebih KINCLONG. Hoho. Lalu, tokoh Adit kini diperankan Richard Kevin yang selalu kaku dalam setiap perannya di beberapa film (Cinta Pertama, Get Married, From Bandung With love). Ia hanya menang “manis” saja dibanding Samuel Rizal.

Wah, semua tokoh dalam Lost in Love ini benar-benar baru dan beda dari Eiffel I’m in Love. Bunda (dulu: Hilda Arifin) dan kakak Tita, Alan (dulu: Tomy Kurniawan) kini diperankan dua keluarga Soebono (aduh, saya lupa namanya, hanya ingat Adrian Soebono saja). Papa Tita yang dulu diperankan Helmi Yahya pun kini diganti dengan George Rudi, dan Didi Petet digantikan Barry Prima (whuuuzzz jauh amet yak) untuk pemeran Papa Adit. Unie, Nanda dan Farah, bahkan Intan pun semua berganti wajah, lebih culun dan tidak berkarakter dari yang sebelumnya.

Ada penambahan tokoh baru bernama Lanjut Baca »

mmm_posterpreview.jpgAh, saya sedang tidak perduli dengan hal-hal teknis yang cukup mengganggu, seperti kualitas gambar, teknik pengambilan gambar dsb. (halah, kayak yang ngerti aja, Dun). Ya, saya memang bukan mahasiswa broadcast atau sinematografi yang mengerti hal-hal tersebut. Saya hanya penonton yang berusaha melihat dengan hati. (halah lagi)

“Mengejar Mas Mas”, judulnya nampak kurang sinkron dengan keseluruhan isi ceritanya. Tetapi, jujur, saya suka bagaimana film ini bercerita.

Syahnaz (Poppy Sovia), seroang gadis Jakarta dengan segala atribut keglamorannya sebagai gadis gaul dsb. Suatu subuh, ia pulang dari dugem bersama teman-temannya. Kadung kepergok sang ayah (Roy Martin), Syahnaz pun pura-pura sedang berolah raga pagi. Eh, sialnya, Syahnaz yang sedang ngantuk-ngantuknya, kualat, harus menemani sang ayah berlari pagi. Lanjut Baca »

film18281.jpgstandar. kalo aja pemainnya bukan Marsha Timothy sama Ricahrd Kevin yang ‘nyegerin’ mata, saya bakalan tidur, atau bahkan meninggalkan bioskop sebelum waktunya^^

nilai: 6

c_j_by_dadun.jpgAlasan saya menonton film ini awalnya hanya karena penasaran dengan aktingnya Kirana Larasati. Sekaligus mengobati kekecewaan saya sebab gagal menonton Perempuan Punya Cerita yang juga menampilkan ia di dalamnya.

Cerita yang biasa, sebenarnya. Tentang seorang gadis yang selalu menghindari pemuda yang mendekatinya karena alasan masa lalu yang cukup kelam. Namun dalam penggarapannya, film ini mengisahkan dua gadis yang (seolah-olah) berbeda: Claudia, anak SMA yang masih 17 tahun yang begitu menggebu-gebu ingin memiliki seorang kekasih dan Jasmine, seorang SPG yang sudah (hampir?) berkepala tiga yang sibuk memilah-milih lelaki sekaligus berusaha membuat mereka ilfil dan meninggalkannya.

Seperti tag line-nya, ini memang benar-benar komedi romantis. Sungguh fresh dengan para castnya, suasana, latar dan setingnya, dialog-dialognya yang ringan, lucu tetapi sederhana dan tidak mengada-ada, modern, natural dan tentu saja romantis.

Wah, film ini memberikan sesuatu yang lebih dari apa yang saya harapkan. Dengan gayanya yang ringan, film ini mampu memberikan hiburan yang begitu memanjakan mata dan perasaan. Kita akan tertawa dengan sendirinya dan imajinasi kita mengalir lancar, tanpa ada keinginan untuk berjalan mundur atau mencoba maju menuju akhir. Bahkan saya berharap film ini tidak akan berakhir karena semakin penasaran memikirkan seperti apa endingnya, kaki saya seperti digelitik sesuatu yang membuat saya melambung dalam kenikmatan menonton.

Adegan yang membuat saya sangat terkesan adalah saat Claudia berkelahi dengan preman-preman tengil yang tak lain teman sekolahnya sendiri. Di luar dugaan, perkelahian itu justru menjadi bahan tertawaan karena sangat tidak biasa. Mereka tidak benar-benar berkelahi, hanya berpose seperti yang dilakukan model-model untuk majalah, tetapi berhasil meyakinkan saya bahwa ini adalah adegan perkelahian.

Dan yang luar biasa, adegan demi adegannya tidak dapat diprediksikan atau diramalkan. Setelah kejaidan A, saya tidak pernah membayangkan bahwa lanjutannya akan ke B, kemudian ke C dan seterusnya. Dan masing-masing adegannya pun… wah, benar-benar mengesankan dan meresap dalam perasaan, sungguh menghibur. Biarpun hampir-hampir mirip dengan gaya FTV, film ini tetap mampu memberi sentuhan lain dengan cita rasanya sendiri.

Awi, sang sutradara cukup lihai dalam menggarap film ini. Saya sendiri tidak menyangka ceritanya akan seperti ini sebab memang sejak awal saya selalu menghindari sinopsis. Hanya menjelang beberapa saat sebelum semuanya terungkap, barulah saya sadar tentang maksud dari semuanya dan ternyata tebakan saya benar. Ah, seandainya saya tidak pernah menebak-nebak, mungkin akan menjadi kejutan tersendiri saat mengetahui bahwa Claudia dan Jasmine…

Well, keseluruhan oke. Mieke Amalia dan Tiza Radia, biarpun aktingnya biasa-biasa saja, namun mampu menghidupkan suasana. Dan Kinaryosih juga Kirana Larasati, sip, perpaduan yang hampir mirip. Andika Pratama membuat saya sedikit under estimate dengan aktingnya yang begitu-begitu saja, dan Nino Fernandes cukup memesona dengan aktingnya yang sederhana. Mario Lawalata dan Sakurta Ginting membuat saya tertawa-tawa, juga VJ Fikri yang membuat saya mengelus dada. Applause buat Ira Maya Sofa dan Tio Pakusadewo. Dan salam kenal buat Mas Awi, sang sutradara. This is cool one!

Wah, terlambat. Film ini sudah hampir ditiadakan di bisokop-bioskop besar di Bandung. Kemarin saja, saya baru mendapat tiket lima menit setelah pemutaran berlangsung dan masih bisa menikmati bangku B dengan tenang. Banyak bangku kosong pun.

Nilai dari saya: 8,5

aac_by_dadun.jpgSutradara : Hanung Bramantyo
Penulis Naskah : Salman Aristo & Ginatri S. Noer dari Novel Karya Habiburrahman El Shirazy
Portal : http://ayatayatcintathemovie.com/
Pemain :
Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Zaskia Adya Mecca, Noura
Melanie Putria, Carrisa Putri, Oka Antara, Surya Saputra, Dennis Adiswara

Pertama-tama, saya acungkan empat jempol untuk Hanung Bramantyo yang, bagi saya, cukup berani mengambil risiko. Memvisualisasikan novel ke layar lebar bukanlah perkara mudah, apalagi untuk novel sekaliber Ayat-Ayat Cinta. Banyak tantangan yang harus Hanung taklukan, dari mulai menerjemahkan bahasa novel yang ‘tidak main-main’ ini menjadi bahasa film yang juga harus ‘tidak main-main’, pengambilan gambar yang sebagian besar harus dilakukan di negara lain yang nota bene perlu perizinan dan tetekbengeknya yang memusingkan, dan yang paling utama adalah menjaga ‘perasaan’ sang penulis dan pembaca agar tidak kecewa saat menonton filmnya.

Dalam sebuah kesempatan, Hanung menegaskan: janganlah terlalu berharap setiap film yang diadaptasi dari novel akan memiliki alur dan visualisasi yang sama persis dengan yang tertulis dalam novelnya, bahkan film Lord of the Ring atau Harry Potter pun berbeda dengan versi novelnya. Tetapi para pembaca yang kemudian menjadi penonton, nampaknya tidak mau tahu urusan itu. Pokoknya, mereka membayar tiket dan membeli pop corn lalu duduk di bangku bioskop untuk meng-akur-kan imajinasi mereka saat membaca dengan film yang akan diputarkan.

Teman saya, pengagum novel Ayat-Ayat Cinta merasa sedikit kecewa dengan perbedaan tersebut tetapi ia masih dapat menikmati, bahkan sampai bergetar dan menangis. Sedangkan saya sendiri…?

Hm, seperti biasa, sambil berusaha menikmati, imajinasi saya selalu mencoba beranjak selangkah lebih jauh dari alur yang sedang terjadi. Ketika screen di depan sedang menayangkan kejadian A, saya sudah berpikir tentang kejadian B dan ternyata… oh, sungguh film ini begitu mudah ditebak oleh seorang saya yang bahkan tidak tamat membaca novelnya dan sudah melupakannya. Tidak ada bedanya dengan saat saya menonton sinetron. Malah, sayangnya, masih ada adegan-adegan yang terkesan sangat sinetron. Membuat film ini agak hambar dan monoton. Yang paling menonjol adalah pada adegan-adegan yang dimainkan Zaskia Adia Mecca. Bukan masalah akting Zaskia, tetapi penggarapannya yang entah kenapa dibuat begitu klise: tamparan, pemukulan dan penindasan layaknya sinetron yang bertebaran.

Hal lainnya yang mengurangi greget film ini adalah perpindahan alur dan latar yang terlalu cepat. Mungkin maksudnya untuk menghindari kesan bertele-tele demi memenuhi standarisasi durasi film yang tak lebih dari seratus menit. Tetapi yang saya rasakan justru seperti ‘tempelan-tempelan’ adegan yang kurang sempurna dan kurang matang, sangat terburu-buru dan dipaksakan.

Pada bagian: kunjungan Maria dan ibunya ke rumah sang nenek terlalu dibuat sengaja memberikan peluang agar Fahri dapat menikah dengan Aisyah dan bahkan saat di rumah sang nenek tidak ada sedikitpun adegan yang meyakinkan kita bahwa kunjungan itu memang benar-benar terjadi dan natural. Di mana sang nenek? Bagaimana keadaannya? Hanung menganggapnya tidak penting.

Kemudian alur menjadi sangat kilat pada upaya pencarian jati diri Noura. Hanya dalam satu kedipan mata saja, orang tua asli Noura sudah ditemukan dan bahkan tidak ada pertentangan diantara mereka. Nampak begitu teratur. Setidaknya ada gambaran sedikit kesangsian dan sebagainya diantara seorang anak yang terpisah sedemikian lama dengan orang tua kandungnya. Atau, memang semudah itukah mencari orang tua asli?

Lalu, adegan Maria ke luar rumah dan ditabrak. Hanya beberapa detik dan lewat begitu saja. Ha? Apaan nih? Ya, saya tahu, ini bagian dari rencana Bahadur dkk., tetapi… hmmmph.

Tiba-tiba Rudi Wowor yang berperan sebagai ayah Noura datang ke kantor polisi untuk mengadukan pemerkosaan yang dilakukan Fahri pada Noura. Dan orang tua Nurul mengunjungi Fahri agar menikahi Nurul. Lho? Buru-buru amat, Mas Hanung! Maksa nggak sih? Seperti kehilangan deskripsi.

Lalu, persidangan yang… cukup aneh. Dan bukti yang akhirnya dibawa Maria pun, huh, lagi-lagi tidak natural.

Tentang inkonsistensi perasaan Aisyah, cukup termaklumi karena memang pada kenyataannya seperti itulah perasaan perempuan, meski dalam penggarapannya tetap saja terlihat dipaksakan dengan tuntutan ‘skenario yang memaksa’.

Tetapi, tentang kondisi Maria yang depresi, koma hingga sembuh yang… huuu, gimana sih, kok cepet banget, Mas Hanung? Cepetnya kelihatan banget! Masa, dikecup Fahri sudah langsung bisa bangun dan sembuh dari koma? Terlalu langsung, lho.

Wah, cukup, cukup. Saya tidak mau menyebutkan lagi yang lainnya. Gila, bisa-bisa saya ditimpuki para pencinta Ayat-Ayat Cinta, nih. Ampun, Mas Hanung. Tapi ini jujur, lho. Biasanya saya sangat kagum dengan karyamu. Tapi untuk yang ini….??? ya, saya mengerti, nampaknya ini cukup sulit. Tetapi, masa sih seorang Hanung Bramantyo…???

Ah, tapi, saya sungguh menikmati suasana ‘Mesir-Mesirannya’, pasar tradisional, flat-flat tempat tinggal, sungai Nil (?), onta Arab, padang pasir dan dialeknya. Siplah. Dan saya benar-benar menangis saat adegan Fahri menikahi Maria di depan Aisyah. Hooo… getirnya. Dan bicara tentang pesan moral, film ini tidak usah diragukan. Dari mulai kisah Nabi Yusuf A.S, sampai kisah Aa Gym berhasil ditampilkannya. Tetapi inti ceritanya sendiri adalah tentang ikhlas dan sabar.

“Maafkan bila ku tak sempurna…” yang dinyanyikan rosa pada reff Ayat-Ayat Cinta yang diciptakan Melly Goeslaw sebagai soundtracknya ini, nampaknya cukup mewakili film Ayat-Ayat Cinta. Yah, dimaafkan, kok, Mas Hanung. -Lho?-

Hm, buat yang penasaran dan merasa bahwa resensi saya ini SALAH dan NGGAK FAIR, silakan nonton sendiri filmnya lalu bantah pendapat-pendapat subjektif saya ini. Saya tunggu.

Nilai dari saya: 8.

Kenapa Indonesian Pie? Coba simak, mereka bertiga baru lulus SMA dan mendambakan kehidupan seks bebas, mirip-mirip American Pie yang menceritakan anak lulusan SMA yang berniat mengakhiri masa perjakanya. Namun karena ini di Indonesia yang nota bene anti-seks bebas, maka solusinya adalah Kawin Kontrak.

Hm, jadi membayangkan ekspresi Dona Harun saat melihat anaknya, Ricky Harun harus beradegan mesum dengan tante-tante yang diperankan Herichan, bahkan ia setengah telanjang.

Tidak perlu banyak resensi, semua orang berhak dengan masing-masing fantasi dalam film ini. Seru. Seksi. Nakal. Berani. Nekat. Haha… heran, kok ini bisa lulus sensor yah? Ah, mungkin saya terlalu polos untuk menganggap film ini cukup vulgar.

Ya, biarpun terkesan seperti komedi nakal atau komedi tengah malam, Odie C. Harahap cukup lihai mengemas semuanya menjadi sebuah tontonan yang menghibur.

Nilai dari saya: 7,7

the BUTTERFLY

ost-butterfly.jpg

produksi : Melly Goeslaw Pictures, Maxima Pictures and Cinema Factory

sutradara : Nayato Fio Nuala

pemain : Andhika Pratama, Poppy Sovia, Debby Kristy, Adeff

Don’t judge a book by it’s cover; ungkapan tersebut saya rasa cukup mewakili film ini. Jika dilihat dari poster atau trailernya di TV, ataupun secara para pemainnya masih sangat anak muda sekali, saya dan semua orang akan berpikir bahwa film ini seperti kebanyakan film remaja lainnya: percintaan dan persahabatan yang sangat klise, dsb.. Tapi saya yakin, semua orang akan terkejut saat menontonnya. Benar-benar… mengejutkan!!!

This is so NAYATO. I mean, dari segi directing dan style yang khas. The Soul, Ekskul, Cinta Pertama merupakan film-film karya Nayato terdahulu yang sudah dapat menjadi identitas—trade mark seorang Nayato Fio Nuala. Saya sulit mendeskirpsikannya, tetapi benar-benar bisa merasakannya ketika menonton film-filmnya. Pun di dalam the BUTTERFLY sendiri. Bahkan di sini, Nayato semakin menunjukkan kualitasnya.

Konon, the BUTTERFLY adalah “film idelisme-Nayato” yang terinspirasi dari lagu Kupu-kupu dan 3 Cinta-nya Melly Goeslaw. Mungkin karena terlalu idealis, konsep BUTTERFLY itu sendiri cukup sulit saya temukan dalam film ini. Saya berpikir-pikir, apakah si tokoh adalah seorang pencinta kupu-kupu (tapi ternyata tidak), ataukah si kupu-kupu mendominasi scene demi scene di dalamnya (ternyata tidak juga). Lalu?

“Love is like a butterfly… it can stay or it can die.” Sumpah, saya tidak benar-benar ngeh dengan ungkapan tersebut. Ya, jika memang cinta itu bisa tinggal atau mati, kenapa harus diidentikan dengan si kupu-kupu? Toh semua makhluk di dunia juga pasti menempuh dua fase itu. Biar cukup melankoliskah? Biar dramatiskah? Entahlah…

Mari lupakanlah sejenak masalah korelasi judul dengan keseluruhan isi cerita. Kita coba mencari ‘kenikmatan’ dari the BUTTERFLY. Lanjut Baca »

film17651.jpg

Kata tersebut mengingatkan saya pada masa kanak-kanak dulu, dimana saya masih suka membeli dan mendengarkan kaset-lagu anak-anak, Medley: Trio Kwek-kwek, Saskia-Angie-Giovanie dkk. dalam satu kaset.

Saya tidak tahu makna “Medley” yang sebenarnya. Tapi mungkin, secara penafsiran saya, Medley itu berarti “beberapa” dalam “sebuah” yang berangkaian-bisa juga saling lepas. Dan film “Medley” ini…

…bercerita tentang seorang lelaki akhir 20-an bernama Aditya (Yosi Project Pop), seorang Unit Manager perusahaan asuransi yang merasa hidupnya kurang bahagia, sangat tidak sempurna. Kata LOSER mendarah-daging dengannya. Padahal kenyataannya, Aditya tidaklah semalang yang dipikirkannya. Dia memiliki sebuah rumah tinggal yang layak, mobil yang lumayan, dan tentunya keluarga yang hangat. Beristrikan Maya (Rachel Maryam) yang sangat pengertian dan penyabar, juga anak lelaki kecil yang lucu bernama Rama.

Lanjut Baca »

Older Posts »