Film ini sangat edukatif, dan menyentuh. Semangat Laskar Pelangi (yang terdiri dari 10 anak tidak mampu) dalam menuntut ilmu di tengah kondisi hidup yang serba-susah, membuat saya merasa patut bersyukur-sesyukur-syukurnya atas apa yang saya dapati dan jalani hingga saat ini. Sekaligus membuat saya malu mengakui kebusukan saya: pemalas, pengeluh, penuntut.
Entah apa yang akan terjadi pada diri saya jika (naudzubillah) saya terlahir pada masa itu dengan kondisi serba-sulit. Tetapi, sangat bangga rasanya jika bisa menjadi bagian dari mereka saat itu. Duduk berbincang dengan Ikal mengenai karya sastra Indonesia; berguru segudang ilmu pada Lintang; berdiskusi masalah musik dan seni dengan Mahar; berkonsultasi mengenai tubuh kekar pada—seseorang yang entah siapa namanya, yang sempat menyarankan Ikal untuk memakai potongan bola tenis pada dadanya… ah, sayangnya saya tidak terlalu mengenal Laskar-laskar lainnya yang ditampilkan hanya sebagai pelengkap saja.
Saya pun akan sujud-sungkem pada Ibu Muslimah yang sungguh luar biasa. Beliau lebih dari sekadar guru. Entah ada berapa orang Ibu Muslimah di Indonesia (semoga tidak hanya satu Ibu Muslimah saja). Saya harap keteladanan dan ketulusan Ibu Muslimah dapat menjadi inspirator bagi seluruh guru di Indonesia, dapat mengetuk pintu hati para pengajar kita. Bahwa menjadi guru adalah sebuah cita-cita mulia, bukan semata profesi yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan ekonomi. Dan mestinya, pemerintah pun menyadari (dan memahami) hal ini, sehingga para guru dapat fokus mengajar murid-muridnya tanpa perlu memikirkan (hal terburuknya) bagaimana cara mendapatkan “pendapatan tambahan” dari kegiatan mengajarnya.
Betapa film ini tidak hanya memberikan suguhan yang bersifat entertaining, tetapi juga memberikan sebuah pengalaman batin, pembelajaran yang luar biasa. Saya serasa diingatkan kembali mengenai pelajaran-pelajaran saat sekolah dulu. Dan betapa menyenangkannya mengenang semua itu (lebih dari ketika saya mengalaminya dulu, hehe). Seakan saya baru diingatkan bahwa pelajaran Sejarah yang dulu tidak saya sukai ternyata adalah sesuatu yang paling penting dipelajari karena bagaimana mungkin kita bisa menjadi warga negara yang baik dan berbudi jika sama sekali tidak mengetahui latar belakang negaranya berdiri. Huhuhu… sungguh miris. Seandainya film ini (tentu saja novelnya juga) sudah diproduksi sekitar sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya punya pandangan lain terhadap mata pelajaran Sejarah (hixhixhix).
Yah, masalahnya, kecenderungan penonton (baca: saya) memiliki semangat dan kesan-kesan positif yang bersifat insidental. Menggebu-gebu hanya ketika sedang larut dalam euforia yang dihadirkan. Sehari-dua hari, seminggu-dua minggu setelahnya… entahlah… semoga tidak terjadi pada para penonton lainnya.
Tapi, saya optimis bahwa, setidaknya, film ini bisa menjadi satu langkah maju (lagi) bagi pemilihan tema film Indonesia. Dan menurut saya, biasanya, film yang bertema pendidikan seperti ini kalau tidak membosankan, pastinya cukup berat dicerna oleh penonton yang malas berpikir seperti saya. Tetapi, Laskar Pelangi benar-benar lain. Penuturannya yang ringan masih bisa mengandung makna-makna yang sedemikian dalam.
Pokoknya, hidup Laskar Pelangi!!!



pria kekar itu bernama borek ( dg pelafalan e seperti pd kata elang, dan K nya itu buan benar2 K)
hidup LP
Semoga bisa melebihi demam AAC, karena film ini layak ditonton semua kalangan. semoga
.
dalam rangka memeriahkan hari sumpah pemuda, kami mengadakan Sayembara Menulis dua aksara.
untuk informasi lebih lengkapnya silakan diklik di link ini
http://matakatakita.wordpress.com/sayembara-cerpen/
terimakasih
salam,
MKK