AKHIRNYA… dengan ekspresi bahagia, saya menyewa “Mereka Bilang, Saya Monyet” dari sebuah rental VCD, setelah tersenyum garing pada petugasnya yang tertawa—mengejek judul film ini.
Di Bandung, hanya Blitzmegaplex (yang harga per tiketnya cukup untuk menonton dua judul film di 21 atau XXI) yang menayangkan film karya Djenar Maesa Ayu ini. Selain dianggap kurang komersil, konon hanya bioskop tertentu saja yang memiliki fasilitas lengkap untuk memutar film berbasis digital ini. Walhasil, saya hanya bisa berharap waktu berjalan cepat hingga tiba saatnya film ini dibakar dalam kepingan CD.
Mari kita mulai bermain dengan si Monyet, hehe…
“Ibu saya …” kalimat menggantung ini menjadi teaser yang menarik untuk saya. Pertama, titik-titik itu terisi dengan kata “cantik”, lalu dihapus menjadi “baik”, kemudian “anggun”, sampai akhirnya… “monyet”. Dan si ibu pun langsung mendorong kepala anaknya ke meja.
Tetapi kemudian, kalimatnya berkembang menjadi “Ibu saya memelihara lintah …”. Ya, film ini memang diangkat dari dua cerpen Djenar Maesa Ayu yang berjudul LINTAH dan MELUKIS JENDELA. Waktu kelas dua SMA, saya pernah khatam membaca antologi “Mereka Bilang, Saya Monyet” karya penulis kontroversial ini, termasuk kedua cerpen tersebut. Tetapi, sayang sekali, ingatan saya semakin tumpul dan hanya menyisakan sedikit memori tentangnya. Huhu…
Tapi, intinya si LINTAH ini bercerita tentang penderitaan seorang anak perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual teman lelaki ibunya—atau ayahnya sendiri?—ya, intinya begitulah. LINTAH dianalogikan sebagai manusia parasit yang kerjanya hanya menghisap “darah” manusia lainnya dan merusak kehidupannya. Sedangkan MELUKIS JENDELA, kalau tidak salah bercerita tentang cinta terlarang antara Ajeng dan Asmoro yang sudah memiliki anak dan istri.
Djenar lihai mengaduk cerita visual, sepiawai dirinya meracik tulisan. Film ini sendiri berkisah tentang Ajeng, seorang penulis cerita anak-anak yang pada suatu hari merasa stuck dan ingin pindah haluan menulis cerita dewasa. Ajeng sendiri memiliki trauma masa lalu dengan LINTAH (ya, tentu saja LINTAH dalam tanda kutip), dan hubungannya dengan sang ibu kurang harmonis. Pola hidupnya pun sangat tak beraturan: dugem, nikotin, alkohol, free-sex. Ia hidup sendiri di sebuah apartemen berkat hubungannya dengan pengusaha kaya raya. Namun, diam-diam ia lebih menikmati hubungannya dengan Asmoro, seorang penulis senior yang kere dan sudah ber-anak istri. Bagi Ajeng, Asmoro adalah guru terbaiknya, mentor dalam dunia tulis-menulisnya.
Ada beberapa hal yang menarik dan melekat (berkesan) dalam ingatan saya:
#Adegan seorang anak kecil yang memuntahkan sayuran ke dalam kloset, lalu dimarahi ibunya dan kemudian dipaksa memakan kembali muntahannya tersebut. Oh ya ampun, tepat pada adegan itu, saya sedang MAKAN! Untungnya saya bukan orang yang jijik-an hanya karena hal begituan. Nonton lanjut, makan pun tetap lahap. Wakakaka… saraf jijik saya sudah putus, mungkin.
#Pas adegan ML-nya Ajeng dan Asmoro, ah, si Djenar kurang liar—kayaknya takut filmnya dicekal. Atau memang adegannya dibikin lucu—setidaknya di mata saya. Pokoknya gitulah… lucu. Juga waktu flirtingnya Mario Lawata sama Fairuz (yang rambutnya brekele), memang cukup hot sih, tapi ya namanya juga film Indonesia, gak usah berharap lebih kali yak, segitu juga kayaknya udah wahhh banget!
#Pemilihan Titi Sjuman (istri Aksan Sjuman—kakaknya Djenar) sebagai tokoh Ajeng memang tepat. Mirip banget sama Djenar. Malah terkesan Titi-lah yang kakaknya Djenar. She’s damn hot! Apalagi pas dia pake lingerie putih, atau pas seolah-olah dia telanjang pas abis ML sama Asmoro (Ray Sahetapy—duh, kenapa harus orang tua ini sih, Djenar?).
#Pas Ajeng bilang: “Gue nggak mau dipanggil CINTA!” hingga akhirnya ia pun cukup dipanggil “Cin”. “Apa kabar, Cin?”(diucapkan dengan intonasi tinggi pada bagian Cin-nya—CIN—jadi semacam jargon juga di kalangan anak “gaul”[?])
#Ada dialog yang sangat lugas (nakal) yang sangat saya suka. Ketika si Ajeng maki-maki si Asmoro, kurang lebih kayak gini: “Heh, gue pikir pacaran sama penulis senior kayak elo bisa bikin gue tambah pinter. Ternyata lo cuma bisa nge**! Nge** juga gak enak!” hahahaha… saya ketawa-ketawa pas bagian itu. Lalu, dalam scene marah-marah berikutnya, si Ajeng ngomong lagi, “Lo pikir, darimana gue bisa dapet duit buat makan, belanja dan tinggal di apartemen tempat kita nge** ini kalo bukan dari dia! …” wakakakaka… Djenar, Djenar… ckckckck
#Dan ada satu lagi, adegan plus dialog KONYOL. Pagi hari, si Mommy (Henidar Amroe) nelpon Ajeng yang lagi tidur sama Asmoro cuma buat nanyain pertanyaan bodoh di TTS koran;
Mommy: “7 huruf, menurun, nama tokoh 1001 malam? …”
Ajeng: “Aladin”
Mommy: “7 huruf, lho!”
Ajeng: “Double “d” kali.”
…
Dan jawabannya adalah Alibaba. Hahaha… penting nggak sih?
#Oh, ya, ya, ada lagi. Ketika si Ajeng nyodorin naskah cerpennya untuk dikomentari, si Asmoro berkomentar tentang teknis menulis yang cukup detail, mirip banget sama beberapa kritikus keren di kemudian.com. Jadi kebayang nama-nama kemudianers seperti……. (hahaha, gak berani sebut nama)
#Yang paling amazing, sekaligus ngebingungin, pas ending cerita. Semua tokoh yang saya pikir, awalnya, mereka itu adalah bagian dari masa lalu si Ajeng (seperti anak kecil berseragam SD dan SMP yang kelihatan stres berat, lelaki dewasa yang nakal dan menjijikan, pembantu dan si ibu sendiri) ternyata dimunculkan semuanya di ending cerita. Si ibu terbangun dengan koran yang memuat cerpen berjudul LINTAH, si lelaki nakal jogging di sekitar kompleks menyapa si Bapak yang keluar rumah, lalu si pembantu memanggil tukang sayur, dan si anak SD dan SMP yang sepanjang cerita nampak menderita itu keluar rumah naik mobil travel Trans City kemudian melambaikan tangannya pada Ajeng yang sedang menulis di laptopnya yang nongol di lantai dua. THE END. Layar gelap, credit tittle naik perlahan.
Yah, pokoknya Monyet ini bener-bener monyet-lah. Jangan salah sangka, maksudnya keren, gila, gokil, lebih kocak dari film komedi, lebih “menegangkan” daripada horor. Tapi tetep, film bertipe seperti ini endingnya suka tiba-tiba dan gak jelas. Justru kalo jelas, jadinya malah gak pas.
Saya sih jadi kepikiran bahwa apa yang diceritakan Ajeng dalam cerpennya di film tersebut yang bersumber dari masa lalunya itu, ternyata masih dialami dan terjadi pada anak-anak gadis di bawah umur hingga saat ini. Dan pesan moralnya? Ya kembali kepada kebijaksanaan pribadi masing-masing penonton sajalah
.***


udah nonton tapi masih bingung jalan ceritanya, bolak-balik, dari masa kecil ke masa remaja, malah pas terakhir semua pemeran ditongolin, jadi tambah bingung.
Dulu sy tdk tau sm sekali Henidar Amroe.Tp Maret 08 kmrn sy tersihir dg aktingnya di film Mereka Bilang.Terus sy cari informasi who she is.I thought she’ nice actor.Sy putuskan jd penggemar baru dia.Something miracle happened since then.Sy dpt sms dr Henidar langsung yg saat itu sdg umroh di Madinah.Dia b’sedia ktm sy.That’ the most beautiful day in last 5 years of my life.Seminggu kmdn stlh kmbl ke Ind,Henidar sms lg,buat janji ktm di MargoCity Depok.Then we met at Starbuck Cafe.She wore Abaya.I watched her walked so elegant.We shaked hands.Then she bought a hot cup of coffe for me.Then we talked for 1 hr 14 min.My face from hers was about 20 inch. She’ so beautiful,looked younger than her age.She talked so calm&nice,but w/ a deep voice.I said that I admired her performance in her new movie & on. We talked like we’ve known each other for long time before. I coudn’t stop wacthing her beauty. I tried so hard not to blink.When I went home then I decided to be her biggest fan of her coz of her sincerely nice personal inviting for me as a friend.She’ so kind,generous,warm. How can be a talented famous actor so nice to her fan? I think she’ an angel w/ a beautiful heart. Gosh! Do other famous actors also treat their fans w/ great attitude like her? Or just only Henidar does it? I felt like a dream,anyway. Gosh! The sensation of happiness when I met her is still in my heart now. I bring that moment in my mind anywhere I go. Now I stay abroad for years ahead to study for master program. She’ give me pleasures just with 1 special moment,but it really means for me as a fan. She’ brougt away my pains. She heals my wounds. She brights up my life everyday now. So I never feel afraid again of anything coz she makes me feel a luckiest person in this planet. That’ one of advantage being a public figure that admired by many people. They can bring happiness to us as their fans. Tell me,people! Tell me,please! Is there anyone else out there more lucky than me that treated so nice by their idols? Thank you so much Henidar.