… dan apa yang didapat?
Pertama-tama, mungkin saya perlu mengemukakan alasan kenapa saya sampai rela mengantri tiket selama 1000 detik dan mengeluarkan Rp. 12.500,00 dari kocek HANYA untuk menonton film yang ternyata merupakan sequel dari Eiffel I’m in Love ini. Yeah, just for “clean” my eyes, coz the casts are good looking enough. Kata teman saya, “Itu lho, pemeran Tita-nya yang ada di iklan CITRA. Wah, cute banget!” walah, alasannya terdengar cukup konyol.
Astaga-naga, saya sampai melupakan nama asli pemeran Tita yang baru (yang dulu diperankan Shandy Aulia). Well, Tita yang SEKARANG jauh lebih segar dan menggemaskan. Sangat memanjakan mata dengan sikap manjanya yang khas remaja 17 tahunan. Tak ada yang baru dalam pembawaannya, kecuali itu tadi, Tita yang sekarang lebih KINCLONG. Hoho. Lalu, tokoh Adit kini diperankan Richard Kevin yang selalu kaku dalam setiap perannya di beberapa film (Cinta Pertama, Get Married, From Bandung With love). Ia hanya menang “manis” saja dibanding Samuel Rizal.
Wah, semua tokoh dalam Lost in Love ini benar-benar baru dan beda dari Eiffel I’m in Love. Bunda (dulu: Hilda Arifin) dan kakak Tita, Alan (dulu: Tomy Kurniawan) kini diperankan dua keluarga Soebono (aduh, saya lupa namanya, hanya ingat Adrian Soebono saja). Papa Tita yang dulu diperankan Helmi Yahya pun kini diganti dengan George Rudi, dan Didi Petet digantikan Barry Prima (whuuuzzz jauh amet yak) untuk pemeran Papa Adit. Unie, Nanda dan Farah, bahkan Intan pun semua berganti wajah, lebih culun dan tidak berkarakter dari yang sebelumnya.
Ada penambahan tokoh baru bernama Alex yang diperankan Arifin Putra. Yup, pemain sinetron yang nampaknya baru pertama terjun ke layar lebar ini cukup menawan-lah ketimbang Richard Kevin. Lebih fresh dan lebih MUDA.
Rahmania Arunita sang DALANG dari kisah ini masih bermain-main di seputar karakter Tita yang cenderung childish dan Adit yang dewasa, dingin, kaku, emosional namun cukup possesive. Tidak nampak eksplorasi lebih dalam, sehingga ceritanya terasa hambar dan sama sekali tidak membuat penonton kenyang. Trik-trik klasik untuk membuat penonton tertawa pun kurang berhasil diumpan. Humornya cukup basi, menurut saya, kecuali tentang permasalahan BAHASA yang begitu menonjol.
Ya, nampak sangat alami ketika Tita lari dari keluarganya kemudian memasuki sebuah kafe, berhadapan dengan pelayan yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, sedangkan Tita sendiri sama sekali buta bahasa Perancis, dan hanya menguasai bahasa Inggris standar, kebanyakan ngarang, dengan aksen dan logat Indonesia. Lalu tentang “perjuangan” Tita selama tersesat di tengah-tengah kota Paris, bertemu dengan banyak orang dan saling “membahasaplanetkan” bahasa satu sama lain. Terlebih saat Tita memanfaatkan seorang turis yang sama-sama tersesat. Lucu… lucu sekali.
Hm, kenapa film ini diberi judul LOST IN LOVE? Saya berpositif thinking saja; mungkin, karena hal yang paling menarik dalam film ini adalah, memang, ketika Tita TERSESAT (LOST?). Bisa dibayangkan, seorang gadis Indonesia 17 tahun yang begitu manja dan cenderung “berlindung di bawah ketiak mama-papa” harus berusaha mempertahankan diri dan berjuang mengatasi segala situasi dan kemungkinan terburuk yang terjadi selama ia tersesat di kota yang asing, negara yang asing. Penyebab ia tersesat adalah karena KEKONYOLAN yang bagi saya kurang masuk akal. Dan salah satu penyebab kekonyolan itu hanya sebuah hal sepele: gara-gara Adit tidak mau memperkenalkan Tita sebagai tunangannya kepada sahabat-sahabat Perancisnya. Zzz…
Jujur, film ini masih terasa monoton dan standar. Apalagi alur dan konflik percintaannya yang… ehm, maaf, basi banget. Tapi, salut-lah untuk Ram Soraya Pictures. Setelah sukses dengan Eiffel I’m in Love yang sepertiga lokasinya diambil di Perancis, kini Lost in Love hampir (atau bahkan pas) seratus persen berseting di Paris, kota Cinta yang indah dan romantis. Dialek Perancisnya pun cukup kuat dan mendominasi. Pokoknya, SMS BANGETS lah! (mentang-mentang sponsor utamanya IM3) eh, salah, Perancis banget lah! Sip, serasa sedang menonton the TOURIST di Trans7 (bukan sponsor, lho).
Ok, terlepas dari kurang-lebih-nya atau plus-minus-nya Lost in Love di mata penonton sok tahu seperti saya ini, saya harap review saya ini tidak mengubah respon positif para pencinta film Indonesia, sedikitpun. Justru, saya berharap agar para Indonesian-movie-lover dapat menjadi penonton yang sedikit kritis tanpa rasa sinis, dan mampu memberikan masukan-masukan positif demi kemajuan perfilman Indonesia. Bagaimanapun, hargailah karya anak negeri, dan berbanggalah menjadi penonton pribumi. Kalau bukan kita, siapa lagi? Mari-mari, bangkitlah film Indonesia!!! *ca’ilah… dadun… ckckck*
Oh iya, TANGGA yang mengisi soundtrack film ini pun ikut-ikutan nampang dan eksist. Terutama Kamga (bener nggak sih nulisnya gini?), vokalis pria yang keturunan Kamerun itu, bahkan menjadi salah satu teman Adit di Perancis.***
==
PS: untuk para movie maker: jangan surut langkah! Terus berkarya! Pinter-pinternya kalian aja mengemas sebuah film menjadi tontonan yang entertaining, kalo bisa yah, agak-agak educating (halah, educating). Kalo ngerasa kurang di bobot cerita, mainkanlah aktris-aktor yang luar biasa, musik dan scoring yang ciamik, atau pilihlah lokasi-lokasi yang sempurna. Ibarat kata, makanan pokoknya boleh cuma nasi dan lauknya ikan asin, tapi suasananya mesti dibuat indah dan menyejukkan, macam di tengah pematang sawah yang hijau, disemiliri angin sejuk, cericit burung, gemericik air sungai yang jernih, berpayung awan putih yang teduh dalam bentangan langit biru cerah, duduk bersila bersama orang-orang terhebat dan tercinta. Ya, seperti itulah Lost in Love ini.



Blog ini jadi salah satu referensi pecinta film ternyata
yah,,, begitulah kira-kira… hehehehe
pokoknya aku suka deh…………….????