Alasan saya menonton film ini awalnya hanya karena penasaran dengan aktingnya Kirana Larasati. Sekaligus mengobati kekecewaan saya sebab gagal menonton Perempuan Punya Cerita yang juga menampilkan ia di dalamnya.
Cerita yang biasa, sebenarnya. Tentang seorang gadis yang selalu menghindari pemuda yang mendekatinya karena alasan masa lalu yang cukup kelam. Namun dalam penggarapannya, film ini mengisahkan dua gadis yang (seolah-olah) berbeda: Claudia, anak SMA yang masih 17 tahun yang begitu menggebu-gebu ingin memiliki seorang kekasih dan Jasmine, seorang SPG yang sudah (hampir?) berkepala tiga yang sibuk memilah-milih lelaki sekaligus berusaha membuat mereka ilfil dan meninggalkannya.
Seperti tag line-nya, ini memang benar-benar komedi romantis. Sungguh fresh dengan para castnya, suasana, latar dan setingnya, dialog-dialognya yang ringan, lucu tetapi sederhana dan tidak mengada-ada, modern, natural dan tentu saja romantis.
Wah, film ini memberikan sesuatu yang lebih dari apa yang saya harapkan. Dengan gayanya yang ringan, film ini mampu memberikan hiburan yang begitu memanjakan mata dan perasaan. Kita akan tertawa dengan sendirinya dan imajinasi kita mengalir lancar, tanpa ada keinginan untuk berjalan mundur atau mencoba maju menuju akhir. Bahkan saya berharap film ini tidak akan berakhir karena semakin penasaran memikirkan seperti apa endingnya, kaki saya seperti digelitik sesuatu yang membuat saya melambung dalam kenikmatan menonton.
Adegan yang membuat saya sangat terkesan adalah saat Claudia berkelahi dengan preman-preman tengil yang tak lain teman sekolahnya sendiri. Di luar dugaan, perkelahian itu justru menjadi bahan tertawaan karena sangat tidak biasa. Mereka tidak benar-benar berkelahi, hanya berpose seperti yang dilakukan model-model untuk majalah, tetapi berhasil meyakinkan saya bahwa ini adalah adegan perkelahian.
Dan yang luar biasa, adegan demi adegannya tidak dapat diprediksikan atau diramalkan. Setelah kejaidan A, saya tidak pernah membayangkan bahwa lanjutannya akan ke B, kemudian ke C dan seterusnya. Dan masing-masing adegannya pun… wah, benar-benar mengesankan dan meresap dalam perasaan, sungguh menghibur. Biarpun hampir-hampir mirip dengan gaya FTV, film ini tetap mampu memberi sentuhan lain dengan cita rasanya sendiri.
Awi, sang sutradara cukup lihai dalam menggarap film ini. Saya sendiri tidak menyangka ceritanya akan seperti ini sebab memang sejak awal saya selalu menghindari sinopsis. Hanya menjelang beberapa saat sebelum semuanya terungkap, barulah saya sadar tentang maksud dari semuanya dan ternyata tebakan saya benar. Ah, seandainya saya tidak pernah menebak-nebak, mungkin akan menjadi kejutan tersendiri saat mengetahui bahwa Claudia dan Jasmine…
Well, keseluruhan oke. Mieke Amalia dan Tiza Radia, biarpun aktingnya biasa-biasa saja, namun mampu menghidupkan suasana. Dan Kinaryosih juga Kirana Larasati, sip, perpaduan yang hampir mirip. Andika Pratama membuat saya sedikit under estimate dengan aktingnya yang begitu-begitu saja, dan Nino Fernandes cukup memesona dengan aktingnya yang sederhana. Mario Lawalata dan Sakurta Ginting membuat saya tertawa-tawa, juga VJ Fikri yang membuat saya mengelus dada. Applause buat Ira Maya Sofa dan Tio Pakusadewo. Dan salam kenal buat Mas Awi, sang sutradara. This is cool one!
Wah, terlambat. Film ini sudah hampir ditiadakan di bisokop-bioskop besar di Bandung. Kemarin saja, saya baru mendapat tiket lima menit setelah pemutaran berlangsung dan masih bisa menikmati bangku B dengan tenang. Banyak bangku kosong pun.
Nilai dari saya: 8,5


huhuhuh bagiman mana kabarnya nih dun..?