
produksi : Melly Goeslaw Pictures, Maxima Pictures and Cinema Factory
sutradara : Nayato Fio Nuala
pemain : Andhika Pratama, Poppy Sovia, Debby Kristy, Adeff
Don’t judge a book by it’s cover; ungkapan tersebut saya rasa cukup mewakili film ini. Jika dilihat dari poster atau trailernya di TV, ataupun secara para pemainnya masih sangat anak muda sekali, saya dan semua orang akan berpikir bahwa film ini seperti kebanyakan film remaja lainnya: percintaan dan persahabatan yang sangat klise, dsb.. Tapi saya yakin, semua orang akan terkejut saat menontonnya. Benar-benar… mengejutkan!!!
This is so NAYATO. I mean, dari segi directing dan style yang khas. The Soul, Ekskul, Cinta Pertama merupakan film-film karya Nayato terdahulu yang sudah dapat menjadi identitas—trade mark seorang Nayato Fio Nuala. Saya sulit mendeskirpsikannya, tetapi benar-benar bisa merasakannya ketika menonton film-filmnya. Pun di dalam the BUTTERFLY sendiri. Bahkan di sini, Nayato semakin menunjukkan kualitasnya.
Konon, the BUTTERFLY adalah “film idelisme-Nayato” yang terinspirasi dari lagu Kupu-kupu dan 3 Cinta-nya Melly Goeslaw. Mungkin karena terlalu idealis, konsep BUTTERFLY itu sendiri cukup sulit saya temukan dalam film ini. Saya berpikir-pikir, apakah si tokoh adalah seorang pencinta kupu-kupu (tapi ternyata tidak), ataukah si kupu-kupu mendominasi scene demi scene di dalamnya (ternyata tidak juga). Lalu?
“Love is like a butterfly… it can stay or it can die.” Sumpah, saya tidak benar-benar ngeh dengan ungkapan tersebut. Ya, jika memang cinta itu bisa tinggal atau mati, kenapa harus diidentikan dengan si kupu-kupu? Toh semua makhluk di dunia juga pasti menempuh dua fase itu. Biar cukup melankoliskah? Biar dramatiskah? Entahlah…
Mari lupakanlah sejenak masalah korelasi judul dengan keseluruhan isi cerita. Kita coba mencari ‘kenikmatan’ dari the BUTTERFLY. Film ini dibuka dengan kata-kata puitis-dalam dari sosok Vano (Andhika Pratama) tentang dirinya, kedua wanita yang cukup berpengaruh bagi hidupnya, pun tentang hidup itu sendiri (sayangnya saya tidak berhasil mengingat kata-katanya). Bahkan film ini diawali dengan sebuah akhir, dimana Dessy (Debby Kristy) diambang maut. Dan diakhiri dengan sebuah awal, dimana ketiga sahabat itu memutuskan untuk memulai perjalanan.
Unik. The BUTTERFLY beralur loncat-loncat. Jika setiap scene (dengan alur sebenarnya) diberi nomor, tentulah nomor-nomor tersebut akan nampak sangat acak. Tepatnya seperti puzzle yang berantakan. Bahkan penonton diajak untuk turut menyusunnya. Tapi jelas, di sinilah sisi uniknya. Inti ceritanya cukup sederhana: perjalanan panjang (long road trip) tiga orang sahabat; Vano, Dessy dan Tia (Poppy Sovia) sebagai hadiah ulang tahun untuk Dessy. Perjalanan tersebut merupakan perjalanan yang ANEH bin AJAIB. Tidak ada tempat tujuan yang pasti, mereka hanya ingin menikmati perjalanannya. Mereka bertiga bukan apa-apa tanpa kehadiran satu diantaranya. Bertiga, mereka baru merasa sempurna. Dessy adalah satu yang dianggap paling berharga dan harus dijaga. Bahkan tanpanya, Vano dan Tia tidak akan bisa bersama.
Seklias, film ini mengingatkan saya pada TENTANG DIA. Tapi, jelas berbeda meski ada hal-hal yang terasa serupa. Berkat kepiawaian Nayato tentunya. Film ini dipernak-perniki hal-hal yang manis, indah dan sangat berkesan (kecuali iklan-iklan sponsornya). Terutama secara pengambilan gambar, pemilihan latar, kostum dan properti yang benar-benar ciamik. Gambar-gambarnya sangat memanjakan mata dan rasa. Hamparan ilalang dan bebungaan dengan kupu-kupu berterbangan, bangunan-bangunan minimalis dan artistik, lokasi-lokasi yang indah.
Tapi sayang, di beberapa scene, the BUTTERFLY kalah cepat dengan film sebelumnya yang mengambil lokasi serupa (salah satunya di daerah Kawah Putih) sehingga terkesan latah, bukan pioner. Bahkan ada satu shoot yang benar-benar sangat mengingatkan saya pada film HEART. Ialah ‘penampakkan’ ranting tanpa daun yang sedikit terbasahi embun. Untuk sebagian orang (atau bahkan mungkin kebanyakan orang), film ini cukup membingungkan sebab pergerakan alur yang tak menentu, juga membosankan sebab tiga tokoh itu saja yang dominan muncul di setiap scene-nya.
Tapi bagi saya pribadi, film ini benar-benar luar biasa. Cerdas. Dan sekali lagi saya bilang UNIK. Ada beberapa bagian/adegan yang saya suka, dan selalu saya ingat: adegan Dessy tercenung di kamar mandi sambil memandangi tetesan air yang jatuh dari pakaian dalam yang tengah di jemur, adegan Dessy muntah-muntah darah (Gilaaaaa…. Nayato sangat hebat menggarap adegan ini… salut salut!!!), dan adegan Dessy meminta ciuman dari Tia (Wakakakaaa…. mulut saya tertawa, mata saya berair, tenggorokan saya terasa getir dan dada saya sesak).
Selain itu, saya juga sangat suka dengan cara pengambilan gambar yang sangat-sangat luar biasa. Meski saya tidak banyak mengerti perihal fotografi, tapi sedikit-banyak saya tahu beberapa teknik, dan bisa sedikit menilai mana angle yang bagus dan tidak.
Dan satu hal yang tidak pernah dapat dipungkiri, saya sangat-sangat-sangat suka dengan soundtracknya yang tentu saja dibawakan Melly dan Anto Hoed. OMG… pada bagian tertentu, saya sengaja memejamkan mata, menikmati kelembutan suara Melly dan harmonisasi nada yang digubah Anto. *ma’nyusss…
Akhirnya, saya bilang bahwa film ini keren. Inilah film yang boleh dikatakan BEDA dari film-film Indonesia lainnya. Salut untuk Nayato yang masih perduli dengan idealismenya—ketimbang memikirkan sisi komersialisme semata. Tapi justru filmnya laku keras. Buktinya, saya mendapatkan tiket untuk pemutaran jam 16:35, sementara tiketnya sendiri sudah saya beli sejak jam 12:30.*** Nilai 8,7


ssetuju bgt, keren bgt!!
Aku sich belum nonton filmnya, tapi kayaknya film nya bagus banget ada Poppy Sovia sama Andhika pratama, aku pernhanya nonton film mengejar mas mas itu kan poppy maen!!,kapan yach kira kira film ini beredar, aku udah tunggu!!!pokoknya poppy sovia and andhika kalian keren banget, aku ngefans ma kalian….
yap. emang keren.
Yaah..meskipun ada bagian agak maksa,tp keseluruhan film ni sangat bagus.Akting,cara penceritaanya mantep!
Setuju!! Memang film “The Butterfly” ini bagus banget. Mulai dari skenario, pemerannya, sudut pengambilan gambar, setting, ‘n alur ceritanya. Enggak miskin, kalo boleh dibilang. Film ini 10x lebih bagus daripada “film “Heart” atau “Love is Cinta.” Salut buat pak Nayato!!
Inilah saatnya dunia perfilman Indonesia bangkit!!
se7 juga deh, gue…. hehehe…
film yg amat teramat bgus . . slut bwd pak nayato . .
Yup.. gw sukaaaa bgt
gw dah nonton berkali-kali tapi belom bozen tuh..
betuuuuullll, sampe gue save tuh film di kompi gw^^
ButTeRfLy gx da 2_a
gwe aja nonton gx bsen2
smpe2 gwe ngerelain tuh uang jajan 1 mggu bwt bli cd_a!!
Tp emank poppy yg bkn film ne jd hdp
debby yg pny nafas_a
n andhika yg nyempurnain_a
pkok_a komplit bgt!
I luv X_an ber_3
n sukses bwt nayato
saya belum lihat sih filmnya, tapi di sctv nanti hari sabtu filmnya mau main. Dari resensi yang saya baca kok ceritanya mirip banget sama cerita dari komik jepang yang judulnya Friends karya Hiromi Mashiba. Bagi yang tahu coba aja baca. mmmm memang susah ya buat yang original.
anjrit film nya perfect n keren banget
andai ja itu da d dunia nyata
gila…… film ni oke banget n udah berkali-kali aku nonton’ ga pnh bosen…….top banget palagi buat para pemainnya.walaupun baru tapi akting mreka,sumpah natural banget
puisinya GiNi NEah
law g’ slah dNghEr Ciih
hidup adalh sbuah prjlanan mencri kbhgiaan
skliGuS khilnGan kBhaGiaan yg Lain
bGitulah Q bLajar ttG hDup
ttG cNta
ttG brNi mnGhdPi dan Brni mLepsKn
dari sbuah(atw mgkin “smua”) perjlann yg mnJdikAn
mathAri, blaN , binTAng
lngit Awn n hujan
gak Akn pErnh sma lGi
bner pa gaknya tanya az ma yng bkin puisi
join @ my fs
rie_chae_yoon@yahoo.co.id
iktan promosi yawh
wah wah wah…. bener bener, kalo gak salah (yaiyalah)
…hiup adalah sebuah perjalanan memcari kebahagiaan
dan sekaligus kehilangan kebahagiaan yang lain,,,,,,,
…..hidup adaah menentukan pilihan ataui tidak
memiliki pilihan sama sekali,,,,
puisinya bagus…kapan buat Film terbarunya lagi,,,tapi pemerannya mereka bertiga lagi yaaa
biar seruuuu……
Mengecewakan..perjalanan yg harusnya jadi setting film ini malah terkesan berputar ditempat yg sama..kostum gak jauh2 dari hotpants dan tanktop..dialog sgt standart untuk film yg menitikberatkan pada drama..satu hal yg saya suka adalah akting 3 sekawan yg tdk mengecewakan dan pengambilan pose di beberapa scene cantik sekali, tapi bukan sesuatu yg baru karena pernah ada di film2 lain..cukup bagus ditonton di tipi klo bener2 gak ada acara lain yg perlu ditonton
wow, aku suka dengan filem itu. aku dari singapura dan sering menonton filem2 indonesia, sungguh, telivisiku dapat membuka channel2 indonesia seperti SCTV dan RCTI. aku sungguh terkesan menonton filem tersebut hingga meneteskan air mataku kerana terkenang ayahku yang sudah meninggal berberapa tahun yang lalu. aku beri filem ini 5/5 bintang.