Sutradara : Sekar Ayu Asmara
Pemain : Luna Maya, Dimas Setowardhana, Chaterin Willson, Rianti Cartwrigh, Indah Kalalo, Vino G. Bastian, Lukman Sardi, Aryo Bayu, Sharifa Danish, Davina
Produksi : MPV Pictures @ 2007
Setelah sukses membuat dahi kita mengerut di “Belahan Jiwa”, Sekar Ayu Asmara kini menyuguhkan cerita yang membuat kita geleng-geleng kepala karena ke-gilaannya.
Dikisahkan lima orang anak manusia yang tergabung dalam grup band: TOPENG. Adalah Canting (Luna Maya), Brazil (Chaterin Willson), Verusca (Rianti Cartwrigh), Arya (Vino G. Bastian) dan Kuta (Lukman Sardi). Kelima sahabat ini masing-masing punya permasalahan, dan tidak ada seorang pun yang boleh merahasiakannya satu sama lain. Mereka punya ritual khusus; kelimanya saling berpelukan sambil mengungkapkan masalahnya masing-masing.
Canting merasa hubungannya dengan Arman (Dimas Seto) selalu dibayangi Julia (Davina), mantan kekasih Arman yang ternyata pernah hamil dan melahirkan seorang anak perempuan bernama Tiara.
Brazil sedang menikmati hubungan percintaan dengan sepasang saudara kembar, Oya dan Oyi (Ramon Y. Tungka) secara bergantian, tanpa tahu satu sama lain. Belakangan Oya dan Oyi mulai menyadari bahwa Brazil hanya mempermainkannya. Memang, karena Brazil hanya sekedar mencari hiburan sekaligus pelarian atas nasibnya yang selalu disakiti laki-laki.
Verusca adalah gadis yang paling anggun, paling religius diantara Canting dan Brazil. Namun ternyata sang masalah tidak lantas menjauhinya. Verusca hamil karena ulah seorang konsultan bernama Dodo, lelaki yang sering ditemuinya di gereja. Dan terakhir kali Verusca check up, dia dinyatakan positif HIV—karena ternyata Dodo seorang ‘pemakai’.
Kuta mulai bosan dengan kehidupan cintanya yang tidak bisa berjalan wajar seperti pasangan lainnya. Sang kekasih yang diperankan Aryo Bayu adalah seorang suami dari Sharifa Danish yang tengah hamil tua, tidak bisa begitu saja mengikuti kemauan Kute untuk dapat hidup bersama dalam satu atap.
Arya yang gagal menjadi pilot karena buta warna itu sangat terobsesi untuk memiliki anak laki-laki, agar kelak bisa meneruskan cita-citanya menjadi pilot. Namun, sang istri yang diperankan Indah Kalalo bersikukuh tidak mau memiliki anak. Dia merasa bisa meramalkan masa depan; jika mereka memiliki anak, maka anak mereka tidak akan bahagia melainkan selalu menderita. Maka, sebagai jalan keluarnya, Arya berselingkuh dengan perempuan lain yang kini telah hamil dan mulai meminta pertanggungjawabannya. Hal ini pun diketahui sang istri yang kemudian mengultimatum; jika Arya nekat menikah, maka sebuah bencana akan terjadi.
Maka, ketika Arya melamar selingkuhannya, sebuah bencana benar-benar terjadi. Mobil yang mereka berlima tumpangi mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawa mereka, kecuali Canting, dalam sebuah perjalanan menuju konser tunggal TOPENG.
Arwah mereka bergentayangan, termasuk Canting yang sedang koma. Dalam alam ‘perantengahan’ itu, mereka berempat menyadari bahwa mereka telah mati, dan masing-masing mempunyai ‘pesan’ untuk orang yang mereka cintai, yang mereka titipkan kepada Canting. Maka, ketika Canting siuman, dia lantas menyampaikan ‘pesan dari surga’ itu kepada masing-masing orang yang dituju.
Hm… terus terang, saya tidak terlalu suka film ini. Saya pikir, film ini tidak akan mengecewakan seperti “Belahan Jiwa”. Sekar Ayu Asmara kurang rapi dalam mengemas cerita di film ini. Si ‘pesan dari surga’ itu hanya terasa di beberapa menit terakhir film saja, bahkan sama sekali tidak menggambarkan benang merah film ini.
[nilai 7,3]

