Sutradara : Lance
Pemain : Luna Maya, Lukman Sardi, Kenishiro Arasy, Fachri Albar, Christian Sugiono
Produksi : – @ 2007
Jeng… jeng… jeng… belum apa-apa, saya sudah terkesiap dengan hal-hal yang tidak-tidak. Ah, dasar omes. Baru mendengar kata Jakarta Undercover saja, pikirannya langsung… Ya bagaimana tidak, wong bukunya sendiri (si Jakarta Undercover itu) isinya tentang ‘kawasan abu-abu’ di Jakarta yang menjanjikan sejuta pelangi luar biasa.
Untung saya sempat membaca “Forbiden City”-nya Moammar Emka. [untuk buku model gini mah saya semangat bacanya, hehe J] jadi ketika menonton Jakarta Undercover, sudah cukup tergambar ceritanya bagaimana.
Tentang seorang wanita penghibur bernama Vikitra (Luna Maya) yang lari dari Medan bersama adik lelakinya yang memiliki keterbelakangan mental, Ara (Kenishiro Arasy) akibat kekerasan dalam keluarga. Dalam film ini, dikisahkan bahwa Vikitra atau Viki berpura-pura menjadi bencong di sebuah kelab malam gay, lesbian dan biseksual, dan bersahabat dengan Amanda (Fachri Albar) yang berprofesi sebagai bencong penghibur. Mereka biasa menari erotis di bar atau di lapdance. Bisa juga diboking di privat room—dengan harga yang berbeda tentunya.
Pada suatu malam, tiga orang lelaki memboking Viki di privat room karena keseksiannya (Secara Viki wanita tulen). Namun karena Viki hanya bersedia menari tanpa ‘diapa-apai’, mereka bertiga marah dan kecewa, kemudian memboking bencong lain. Seorang yang dianggap bos yang diperankan Lukman Sardi, saking birahinya sampai melenyapkan nyawa bencong itu (Sepenangkapan saya, bencong itu meninggal karena saat mereka
‘berhubungan’, si lelaki nampak mencekik leher bencong itu).
Awalnya ini hanya menjadi kecelakaan kecil, perkara mudah; mereka tinggal membuang mayat bencong itu. Sampai kemudian, tertinggal jejak-jejak saksi mata yang setelah ditelusuri ternyata Ara, adik Viki yang selalu bersembunyi dalam lemari di privat room ketika Viki beraksi. Meskipun Ara punya kesulitan berkomunikasi, dia masih bisa melihat kejadian pembunuhan itu dan menuangkannya dalam sebuah gambar. Selain itu juga, tape recorder yang biasa digunakannya untuk berkomunikasi dengan Viki, ternyata telah berhasil merekam pembicaraan para pembunuh yang salah satunya anak dari seorang hakim terkemuka ibu kota.
Di sinilah letak seru dan tegangnya. ¾ film ini menceritakan tentang usaha Viki dan Ara dalam meloloskan diri dari kejaran para pembunuh yang sedang mengincarnya. Bahkan nyawa Amanda terenggut karena hal itu.
Film ini benar-benar menegangkan. Sayang, saya tidak sempat menontonnya di bioskop. Beberapa minggu yang lalu bahkan saya baru menyewanya dari rental. Tapi efek tegangnya tetap terasa meski hanya disaksikan dari layar 14 inci.
Inilah film Indonesia yang saya tunggu-tunggu. Sejak jatuh cinta pada Cellular, saya selalu memimpikan bisa menonton film Indonesia yang setidaknya menyamai tingkat ketegangannya. Dan terutama masalah alur dan seting yang tidak ada pemenggalan secara cepat, dimana alur ceritanya hanya memakan waktu satu malam saja; dari awal kejadian sampai akhir film penuh dengan berbagai adegan menegangkan, tanpa perpindahan waktu dengan rentang waktu terlalu lama.
Tidak ada komentar lain, kecuali KERENNN!!! I love you, Luna Maya. Peran-perannya selalu ok dalam film-film yang dimainkannya.
[dadun kasih nilai 8]



kerEEn, but tingkatkan terus perfilman indonesia
jangan hanya film drama doank……animasi, aktion dunk
aduuuuuh………mbak luna,bajunya lebih dibuka dikit donk!!!!!
biar g bikin penasaran yang ngeliat