Pemain : Ramon Y. Tungka, Sheila Joseph, Metta
Produksi : – @ 2006
Entah kenapa, film ini berhasil membuat saya tersentuh hingga menangis. Semacam realita miris tentang seoseorang yang ekstrim introvert. Menceritakan tentang seorang anak SMA bernama Joshua (Ramon Y. Tungka) yang kerap mengalami penindasan, penyiksaan dan diskriminasi berlebihan dari teman-temannya, bahkan dari kepala sekolahnya, juga dari sang ayah.
Joshua dianggap aneh dan punya gangguan mental. Orang tuanya bahkan mempercayakannya kepada psikiater. Di rumah, Joshua kerap disiksa sang ayah. Segala yang dilakukannya selalu berniali salah di mata sang ayah. Dan di sekolah, Joshua selalu dianiaya sekelompok anak yang merasa paling berkuasa: digantung di pagar, dipukuli, ditendang, hingga kepalanya ditenggelamkan ke dalam kloset.
Hanya ada dua orang yang menganggapnya cukup normal; ialah Sheila dan Metta. Sheila merasa memiliki kesamaan nasib dengan Joshua. Sedangkan Metta jatuh cinta pada Joshua. Namun kepercayaan Metta akan Joshua harus lebur mana-kala dia mengetahui bahwa Joshualah yang mencuri barang-barang miliknya yang dianggap tidak penting untuk dicuri. Dan Metta pun semakin menganggap Joshua tidak normal ketika Joshua menculik beberapa anak yang selama ini menyiksanya, juga beberapa yang tidak sengaja disanderanya.
Joshua mendadak terkenal hari itu. Seisi sekolah dibuat geger dengan rencananya yang sangat matang: balas dendam. Semua anak yang pernah bersalah padanya, dikurung di ruangan BP. Semuanya mengalami penyiksaan seperti yang pernah mereka lakukan pada Joshua. Benar-benar bentuk balas dendam. Sementara di luar, orang tua yang bersangkutan, guru dan segenap aparat keamanan berkumpul meminta pembebasan dari Joshua.
Puncaknya, ketika tengah malam tiba, akhirnya Joshua menyerah. Dengan menawan seorang ‘dedengkot’ biang onar, Joshua berdiri di atas gedung, berkoar-koar tentang penderitaannya selama ini akibat ulah mereka. Dan cerita ini ditutup dengan ending yang menyedihkan. Joshua mati bunuh diri dengan sepucuk pistol yang hanya berisi satu peluru itu.
Film garapan Nayato ini bisa dibilang berbeda dari genre film Indonesia kebanyakan. Namun, dalam pembuatannya masih terlalu kasar dan banyak hal yang kurang masuk akal. Entah tepatnya apa, saya lupa. Sebab film terakhir kali menonton film ini kira-kira dua setahun yang lalu. Hanya saja kesan ‘nendang’ dan ‘ngena’-nya tidak terlalu terasa, kecuali makna yang saya simpulkan sendiri sehabis menonton film ini. Itupun karena ada sedikit unsur ‘pengalaman pribadi’. Entah dengan orang yang sama sekali tidak pernah sedikitpun bersentuhan dengan hal setragis ini, apakah mereka bisa tersentuh dan terenyuh atau tidak sama sekali. Dan satu hal, sosok Sheila tidak terlalu penting eksistensinya di film ini-tapi kenapa dijadikan peran utama.
Well, awalnya saya suka dengan film ini meski masih ada unsur-unsur ‘pemaksaan’ di dalamnya. Dan saya tidak menyangka film ini unggul dalam FFI 2006 menumbangkan judul-judul dengan cerita yang lebih ‘ngena’. Tapi kemudian begitu tahu bahwa film ini dinilai kurang layak mendapatkan Citra, penialaian saya pun berubah. Sedikit kecewa.
[nilai 7,8]



menurut aq film ini bagus banget
sumpah bagus banget……………
aq sampe nangis nonton nih film
apalagi pas endingnya
ituloh yang dia di atas gedung terus mau bunuh temennya yang nyiksa dia
eh ternyata dia bunuh diri……………
hiks………sedih aq