Sutradara : Rudi Soedjarwo
Pemain : Sissy Priscilia (Rahmi), Nadia Saphira (Alin), Aditya Herfavi (Raka), Miller (Nimo)
Produksi : SinemArt @ 2007
Film ini diangkat dari novel best seller yang berjudul sama : Cintapuccino, karya seorang penulis wanita asal Bandung, bernama Icha Rahmati. Berkisah tentang seorang gadis bernama Apraditha Arrahmi (Rahmi) yang harus menghadapi situasi dilematis menjelang hari pernikahannya dengan Raka. Hal itu dikarenakan Nimo, sosok lelaki yang menjadi obsesi Rahmi selama bertahun-tahun—sejak masa SMA dulu—tiba-tiba hadir kembali ke kehidupannya; menyingkap kembali kenangan diantara mereka. Menjadikan Rahmi benar-benar merasa diuji antara nurani dan realita; antara masa lalu, masa kini dan masa depan; antara obsesi dan cinta; antara Nimo dan Raka. Dan yang lebih berat lagi, sebulan sebelum hari pernikahan Rahmi dan Raka, Nimo menyatakan cinta pada Rahmi, bahkan mengatakan bahwa Rahmi-lah sosok wanita yang selama ini dicarinya. Kalau saja Nimo mengatakannya sepuluh tahun yang lalu, atau dua tahun yang lalu, atau setahun yang lalu, atau lima bulan yang lalu, atau bahkan sebulan yang lalu, mungkin keadaannya tidak akan sekacau ini…
Maka, Rahmi benar-benar dituntut untuk dapat membuat sebuah keputusan besar.
Rudi Soedjarwo memang piawai dalam menggarap film yang mengangkat kisah-kisah dari sudut pandang perempuan. Dramatisasinya selalu goal. Apalagi untuk scene: Rahmi dan Alin beradu argumen tentang Nimo Vs Raka, atau dalam scene: Rahmi menemui Nimo untuk mengatakan bahwa dia akan menikah dengan Raka, atau waktu Raka dan Nimo berkenalan dengan ‘menyanjungkan’ status mereka masing-masing, dan terutama pada saat Raka melihat Rahmi menangis karena Nimo akan pergi meninggalkannya. Aaargh… gila, Rudi Soedjarwo menyobek-nyobek hati saya…
Entah unsur kesengajaan atau apa, eksistensi Nimo (diperankan artis import bernama Miller dengan aksen yang ‘kurang Indonesia’) mengurangi tingkat ‘keseriusan’ cerita di film ini. Adegan sedih Nimo justru malah menjadi bahan tertawaan penonton bioskop. Etnah itu dari mimik mukanya (yang lagi-lagi entah sengaja dibuat demikian atau…?) ataupun dari aksen dialognya yang terdengar lucu.
Saya menyadari satu hal—secara ekstrinsik: dalam film ini ada dua pemeran Milly di AAdC? versi layar lebar dan layar kaca; yaitu Sissy Priscilia dan Nadia Saphira. Dan betapa AAdC? menjadi batu loncatan bagi para pemerannya untuk menjadi pemeran utama di film-film berikutnya: Dian Sastro—Ungu Violet, Banyu Biru, Belahan Jiwa; Nicholas Saputra—Biola Tak Berdawai, Janji Joni, Gie, 3 Hari untuk Selamanya; Titi Kamal—Mendadak Dangdut; Ladya Cheril—Biarkan Bintang Menari; Adinia Wirasti—Tentang Dia, Dunia Mereka, Ruang, 3 Hari untuk Selamanya; Denis Adiswara—Jomblo; dan Sissy Priscilia—Cintapuccino.
Ngomong-ngomong soal kata “Cintapuccino” itu sendiri, saya merasa kurang ada chemistry antara kata (judul) tersebut dengan inti ceritanya. Memang, di awal dan di akhir bagian cerita sempat disinggung tentang capuccino—yang mungkin kemudian diplesetkan menjadi cintapuccino, entahlah. Bahwa, katanya, capuccino itu mewakili karakter Rahmi yang serba “mix” antara rasa manis, gurih, asem, kecut dan pahit—seperti rasa capuccino. Dan bahwa Rahmi dan Nimo adalah dua orang yang sama-sama menyukai capuccino—sedangkan Raka hanya menyukai kopi hitam. Mungkin karena itulah cerita ini berjudul Cintapuccino. Mungkin. Terus terang, saya belum bisa menemukan benang merahnya (*mode mikir on).
Anyway, kalau kata saya, film ini benar-benar film yang luar biasa. Bayangkan saja, shootingnya hanya memakan waktu 8 hari, saya ulangi: 8 HARI saja! Tapi tetap kualitasnya oke punya. Ckckck… hebat… hebat… Rudi Soedjarwo mantabbb.
Kok saya bisa tidak tahu ya, sebagian besar pengambilan gambarnya dilakukan di kota Bandung tercinta ini? Padahal… saya bisa tuh curi-curi kesempatan untuk ikut nampang (halah… nanti filmnya jadi jelek lagi!)
Well, film ini oke banget. Top markotop. Gud marsogud. Ringan dan menghibur, tapi tetap dalam… Buat kamu yang sudah membaca novelnya, tidak ada salahnya untuk menonton filmnya. Karena dengan perpaduan audio-visual, otak kanan-kiri kita bisa lebih terstimulasi dan pesan-kesan dari cerita ini pun bisa lebih diresapi.
[dadun kasih point 8,6]


waduh….belum nonton tuuuu…..
ringan, menghibur, dan memang pada akhirnya kita harus memilih dalam hidup. Apapun pilihan yang diambil harus dijalani dengan sepenuh hati.
[...] Film ini diangkat dari novel best seller yang berjudul sama : Cintapuccino, karya seorang penulis wanita asal Bandung, bernama Icha Rahmati. Berkisah tentang seorang gadis bernama Apraditha Arrahmi (Rahmi) yang harus menghadapi situasi dilematis menjelang hari pernikahannya dengan Raka.<dunontondir> [...]
filmnaya kurang adegan ranjangnya sih jadi tidak seru kalau saja di pakai adegan itu pasti banyak yang mau nonton
tolang di perhatikan ya